- Kontak bentur, terjadi bila kepala membentur atau menabrak sesuatu obyek atau sebaliknya
- Guncangan lanjut, merupakan akibat peristiwa guncangan kepala yang hebat, baik yang disebabkan oleh pukulan maupun yang bukan karena pukulan (Satyanegara,2006 )
- Cedera kepala ringan (mild head injury): Pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran, bila hilang kesadaran misalnya konklusio, tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang, biasanya mengeluh nyeri kepala dan pusing. Pasien dapat menderita abrasi, laserasi atau hematoma kulit kepala.
- Cedera kepala sedang (moderat head injury) : Suatu keadaan cedera kepala dengan nilai tingkat kesadaran (GCS) yaitu 9-12, tingkat kesadaran lethargi, obturned atau stupor. Gejala lain berupa muntah, amnesia pasca trauma, konkusio, rabun, hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan cerebrospinal dan biasanya terdapat kejang.
- Cedera kepala berat (severe head injury): Cedera kepala dengan nilai tingkat kesadaran (GCS) yaitu 3-8, tingkat kesadaran koma. Terjadi penurunan derajat kesadaran secara progresif. Tanda neurologis fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.
Trauma kepala terbuka : Trauma ini dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi duramater. Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak menusuk otak, misalnya akibat benda tajam atau tembakan.
- Fraktur linear: Fraktur linear pada daerah temporal, dimana arteri meningeal media berada dalam jalur tulang temporal, sering menyebabkan perdarahan epidural. Fraktur linear yang melintang garis tengah, sering menyebabkan perdarahan sinus dan robeknya sinus sagitalis superior.
- Fraktur basis cranii : Sering disebabkan karena trauma dari atas atau kepala bagian atas membentur jalan atau benda diam. Fraktur di fosa anterior, sering terjadi keluarnya liquor melalui hidung (rhinorhoe) dan adanya brill hematoma (raccoon eye).
- Fraktur petrosus : Berbentuk longitudinal dan transversal (lebih jarang). Fraktur longitudinal dibagi menjadi anterior dan posterior. Fraktur anterior biasanya karena tarauma di daerah temporal sedangkan yang posterior disebabkan karena trauma di daerah oksipital
- Komusio serebri (gegar otak) : Merupakan bentuk trauma kapitis ringan, dimana terjadi pingsan (kurang dari 10 menit). Gejala – gejala lain mungkin termasuk pusing, noda-noda di depan mata dan linglung. Komusio serebri tidak meninggalkan gejala sisa atau tidak menyebabkan kerusakan struktur otak.
- Kontusio serebri (memar otak) : Merupakan perdarahan kecil atau petechie pada jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler. Hal ini bersama-sama dengan rusaknya jaringan saraf atau otak yang akan menimbulkan edema jaringan otak di daerah sekitarnya. Bila daerah yang mengalami edema cukup luas akan terjadi peningkatan tekanan intracranial
- Pada semua pasien dengan cedera kepala dan/atau leher, lakukan foto tulang belakang servikal (proyeksi anterior-posterior, lateral, dan odontoid), kolar servikal baru dilepas setelah dipastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal.
- Pada pasien dengan cedera kepala ringan umumnya dapat dipulangkan ke rumah bila hasil pemerikasaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan ) dalam batas normal, foto servikal jelas normal.
- Temperatur badan: demam (temperatur > 101oF) mengeksaserbasi cedera otak dan harus diobati secara agresif dengan asetaminofen atau kompres dingin. Pengobatan penyebab (antibiotik) diberikan bila perlu (Mansjoer, Arif, 2001)
- Antibiotikyang mengandung barrier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazole.
- Pemberian analgetika
- Makanan atau cairan, pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus 5%, aminofusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak (Pahria, 2003)
- Edema pulmonal : Ini mungkin berasal dari gangguan neurologis atau akibat sindrom distress pernafasan dewasa. Edema paru dapat akibat dari trauma pada otak yang menyebabkan adanya reflek cushing. Peningkatan pada tekanan darah sistemik terjadi sebagai respon dari sistem saraf simpatis pada peningkatan TIK. Peningkatan vasokontriksi tubuh umum ini menyebabkan lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru.
- Kejang : Kejang terjadi sekitar 10 % dari pasien trauma kepala selama fase akut perawat harus mempersiapkan kemungkinan kejang dengan menyediakan spatel lidah yang diberi bantalan atau jalan nafas oral di samping tempat tidur dan peralatan penghisap dekat dalam jangkauan. Satu-satunya tindakan medis terhadap kejang adalah terapi obat. Diazepam merupakan obat yang paling banyak digunakan dan diberikan secara perlahan melalui intravena.
- Kebocoran cairan serebrospinal : Ini dapat akibat dari fraktur pada fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktur tengkorak basilar bagian petrosus dari tulang temporal.
Siip... tambah pengetahuan lagi .. Makasih banyak sharenya mas ...
BalasHapussama2 mas..
Hapus