Home » » Askep Benigna Prostat Hiperplasia

Askep Benigna Prostat Hiperplasia

Askep Benigna Prostat Hiperplasia
Pengertian Benigna Prostat Hiperplasia
Pengertian mengenai Benigna Prostat Hiperplasia banyak diungkapkan oleh beberapa ahli, walaupun cara pandang para ahli berbeda tetapi mengandung arti yang sama, diantaranya :
Benigna Prostat Hiperplasia adalah kelenjar prostat yang mengalami pembesaran, memanjang keatas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan menutupi orifisium urethra dan biasa terjadi pada banyak pasien dengan usia di atas 50 tahun.

Pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius.

Benigna Prostat Hiperplasia adalah pertumbuhan dari nodula-nodula fibroadenomatosa majemuk dalam prostat dan lebih dari 50 % pria di atas 50 tahun mengalami pertumbuhan nodular ini”.

Etiologi
Etiologi Benigna Prostat Hiperplasia
Menurut Basuki B. Purnomo (2003:74) hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasi prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron dan proses aging (menjadi tua).

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :
1) Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut.
2) Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
3) Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati.
4) Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik Benigna Prostat Hiperplasia
Menurut Basuki B. Purnomo (2003:77), gambaran klinik yang sering terjadi pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia adalah hal-hal berikut dalam derajat yang berbeda, yaitu :
1) Gejala Obstruktif :
  • Mengedan untuk miksi
  • Miksi terputus, terjadi karena destruktor buli tidak mampu mempertahankan kontraksi yang cukup adekuat hingga akhir miksi
  • Miksi menetes
  • Pancaran urine lemah, hal ini akibat dari uretra prostatika yang menyempit
  • Menunggu saat permulaan miksi, akibatkan karena destruktor buli yang melemah dan membutuhkan waktu untuk berkontraksi
  • Miksi tidak lampias.
2) Gejala Iritatif :
  • Sering miksi pada malan hari
  • Rasa terdesak untuk miksi, biasanya terjadi akibat dari hiperaktivitas dan hiperiritabilitas buli-buli 
  • Rasa nyeri waktu miksi akibat infeksi atau batu sebagai statis urine
  • Sering miksi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna menyebabkan memendeknya interval miksi, perangsangan buli-buli untuk kontraksi oleh pembesaran prostat, meningkatnya daya rangsang dan melemahnya tonus spingter terutama pada malam hari.
Untuk mengukur besarnya hiperplasia prostat dapat dipakai berbagai pengukuran, yaitu :
1) Rectal Grading
Dengan rectal toucher diperkirakan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dari rektum. Rectal toucher sebaiknya dilakukan dengan buli-buli kosong, karena jika penuh bisa terjadi kesalahan. Gradasi ini adalah sebagai berikut :
  • 0-1 cm  grade 0
  • 1-2 cm  grade 1
  • 2-3 cm  grade 2
  • 3-4 cm  grade 3
  • > 4 cm  grade 4
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas atas dari prostat tidak dapat diraba.
2) Clinical Grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine pada pagi hari setelah klien bangun tidur dan disuruh BAK sampai selesai, kemudian dimasukkan kateter dalam buli-buli untuk mengukur sisa urine. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1) Sisa urine 0 cc : normal
2) Sisa urine 0-50 cc : grade 1
3) Sisa urine 50-150 cc : grade 2
4) Sisa urine > 150 cc : grade 3
5) Sama sekali tidak bisa kencing : grade 4.

3) Intra Urethral Grading
Melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke lumen uretra, pengukuran ini hanya dapat dilihat dengan endoskopi.

Patofisiologi
Gejala klinis yang menonjol dari Benigna Prostat Hiperplasia adalah sumbatan pada saluran kemih bagian bawah. Gejala ini terjadi disebabkan oleh 2 komponen, yaitu :
1) Komponen statik akibat adanya penekanan yang bersifat menetap pada uretra.
2) Komponen dinamik yang disebabkan oleh peningkatan tonus kelenjar prostat yang diatur oleh sistem saraf otonom.

Komponen statik terjadi karena meningkatnya volume prostat yang pada akhirnya menekan uretra dan dan terjadi hambatan aliran kemih. Sedangkan komponen dinamik yaitu dimana prostat terdiri dari 2 bagian utama, yaitu stroma yang terdiri dari jaringan ikat, pembuluh darah dan saraf, juga serabut otot polos yang terdiri dari lumen asinisel epitel kelenjar. Reseptor yang bertanggung jawab untuk kontraksi otot polos ini adalah adrenoreseptor. Pengaktifan reseptor ini akan menstimulasi otot polos sehingga akan menaikkan tonus prostat dan leher buli-buli yang tentunya meningkatkan tekanan dan resistensi uretra. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan terjadinya sumbatan aliran kemih. Selain terjadi sumbatan, hambatan buli-buli juga diperberat dengan adanya kelemahan kontraksi otot dan destruktor buli-buli. Kelemahan kontraksi ini terjadi akibat adanya perubahan pada otot destruktor berupa kurangnya densitas persarafan, fibrosis dan perubahan pada sel otot. Perubahan ini tidak selalu akibat adanya sumbatan intervesika, tapi juga disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan usia. Dengan adanya sisa urine maka dapat terjadi peningkatan resiko infeksi dan terbentuknya batu dalam kandung kemih. Peningkatan tekanan balik mengakibatkan tekanan pada ginjal yang menyebabkan iskemik, kemudian terjadi penurunan filtrasi glomerulus sehingga terjadi proteinuria dan penurunan albumin yang menyebabkan penurunan tekanan osmotik sehingga dampaknya cairan berinvasi dari intra sel ke interstitial dan terjadilah oedema.
Dari urine statis menyebabkan urine alkali sehingga memudahkan berkembang biaknya bakteri sehingga terjadi peradangan pada blass dan merangsang reseptor nyeri yang diteruskan ke korteks cerebri dan akhirnya dipersepsikan sebagai nyeri. Nyeri pada klien  dapat menyebabkan klien selalu terjaga, aktivitas terbatas, adanya disfungsi sosial dan terjadinya peningkatan refleks vagal yang mengakibatkan peningkatan HCL sehingga terjadi mual dan muntah.

Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasi
Pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia, penatalaksanaanya meliputi
Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasia
Menurut Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, (2001:1626) Penatalaksanaan untuk Benigna Prostat Hiperplasia antara lain :
1) Rencana sectio alta bergantung pada penyebab, keparahan obstruksi dan kondisi klien. Jika pasien masuk RS dalam keadaan darurat karena tidak dapat berkemih, maka kateterisasi segera dilakukan. Kateter yang lazim mungkin terlalu lunak dan lemas untuk dimasukkan melalui uretra ke dalam kandung kemih.
2) Pada kasus yang berat mungkin digunakan kateter logam dengan tonjolan kurva prostatik. Kadang suatu insisi dibuat ke dalam kandung kemih (sistostomi suprapubik) untuk drainase yang adekuat.
3) Karena sudah diidentifikasi adanya komponen hormonal pada hiperplasia prostatik jinak, salah satu metode pengobatan mencakup manipulasi hormonal dengan preparat antiandrogen.
4) Operatif dengan prostatectomy
a) TURP
Merupakan model untuk mengangkat lesi obstruksi minor dan merupakan teknik pembedahan prostat yang paling umum dilaksanakan. Jaringan abnormal diangkat melalui retroskopi yang dimasukkan melalui uretra.
Keuntungan TURP diantaranya waktu opname relatif pendek dan penyembuhan relatif cepat. Indikasi dilakukannya TURP yaitu apabila pembesaran prostat sekitar 40 gr.
b) Prostatectomy suprapubis
Pembedahan dilakukan dengan cara penyayatan perut bagian bawah. Indikasi dilakukan tindakan ini apabila pembesaran prostat lebih dari 40 gr, terjadi abnormalitas vesika urinaria karena diventrikuli atau batu, pembesaran lobus tengah prostat. Pada tindakan ini abnormalitas vesika urinaria dapat diobati secara bersamaan karena insisi dibuat sampai vesika urinaria.
Keuntungan prosedur ini memungkinkan eksplorasi dan pengangkatan jaringan lebih sempurna. Kerugian tindakan ini diantaranya bisa timbul syock dan perdarahan, spasme bladder dan penyembuhan relatif lama.
c) Prostatectomy retro pubis
Pembedahan seperti ini dilakukan dengan cara menyayat pada perut bagian bawah. Tindakan ini memungkinkan pencapaian prostat tanpa mengganggu vesika urinaria dan memungkinkan visualisasi langsung terhadap prostat. Kerugiannya vesika urinaria tidak dapat dibuka dan dapat terjadi ostitis pubis. Inkontinentia dan impotensi merupakan komplikasi yang mungkin terjadi.
d) Prostatectomy perianal
Pembedahan dilakukan dengan cara penyayatan diantara scrotum dan anus. Diperlukan untuk prostatectomy radikal dan biasanya diikuti dengan vasektomy untuk mencegah epididimitis.

Pemeriksaan Penunjang Pada Benigna Prostat Hiperplasi
Menurut Marilynn, E, Doenges, dkk, (1999:672), untuk memperkuat diagnosis diperlukan pemeriksaan penunjang, diantaranya : 
1) Urinalisa : Warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang (berdarah); penampilan keruh; pH 7 atau lebih (menunjukkan infeksi); bakteria, SDP, SDM mungkin ada secara mikroskopis.
2) Kultur urine : Dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella, Pseudomonas, atau Escherichia coli.
3) Sitologi urine : Untuk mengesampingkan kanker kandung kemih.
4) BUN / kreatinin : Meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi.
5) Asam fosfat serum / antigen khusus prostatik : Peningkatan karena pertumbuhan seluler dan pengaruh hormonal pada kanker prostat (dapat mengindikasikan metastase tulang).
6) Sel Darah Putih : Mungkin lebih besar dari 11.000, mengindikasikan infeksi bila pasien tidak imunosupresi.
7) Penentuan kecepatan aliran urine : Mengkaji derajat obstruksi kandung kemih.
8) IVP dengan film pasca-berkemih : Menunjukkan perlambatan pengosongan kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih dan adanya pembesaran prostat.
9) Sistouretrografi berkemih : Digunakan sebagai pengganti IVP untuk memvisualisasi kandung kemih dan uretra karena ini menggunakan bahan kontras lokal.
10) Sistogram : Mengukur tekanan dan volume dalam kandung kemih untuk mengidentifikasi disfungsi yang tidak berhubungan dengan BPH.
11) Sistouretroskopi : Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan perubahan dinding kandung kemih (kontraindikasi pada adanya ISK akut sehubungan dengan resiko sepsis gram negatif).
12) Sistometri : Mengevaluasi fungsi otot detrusor dan tonusnya.
13) Ultrasound transrektal : Mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine; melokalisasi lesi yang tidak berhubungan dengan BPH.

Askep Benigna Prostat Hiperplasia
Pengkajian
a) Sistem Pernafasan
Bentuk hidung simetris, tidak terdapat deviasi septum nasi, tidak terdapat sianosis pada bibir, jari tangan ataupun jari kaki, tidak terdapat pernafasan cuping hidung, mukosa hidung lembab, tidak terdapat sekret, tidak terdapat penggunaan otot-otot bantu pernafasan, bentuk dada simetris, perbandingan antara diameter anteroposterior dengan diameter transversal 1:2, tidak terdapat adanya retraksi dada ataupun retraksi epigastrium, tidak terdapat adanya nyeri tekan pada dada, ekspansi paru simetris, pengembangan maksimal, getaran vokal fremitus seimbang kanan dan kiri, suara perkusi paru terdengar resonan, pada auskultasi terdengar suara vesikuler di semua area paru, frekuensi nafas 18 x/menit.

b) Sistem Kardiovaskuler
Konjungtiva palpebra warna merah muda, Jugular Venous Pressure(JVP) tidak meningkat, tidak ditemukan adanya clubbing finger, CRT (Capilarry Refilling Time) kembali dalam 2 detik, akral teraba hangat, iktus kordis teraba pada ICS V garis midklavikula kiri. Pulsasi denyut nadi teraba kuat, irama denyut nadi teratur, denyut nadi 76 kali/menit. Tekanan darah 120/70 mmHg. Suara perkusi jantung terdengar dullness, S1 dan S2 terdengar murni reguler.

c) Sistem Perkemihan
Tidak terdapat adanya oedem pada palpebra dan juga daerah ekstremitas atas dan bawah, tidak terdengar adanya bruits sign pada percabangan aorta abdominalis (arteri renalis kiri dan kanan), tidak terdapat adanya nyeri tekan ataupun nyeri lepas saat palpasi ginjal, dan pada saat palpasi ginjal, tidak teraba. Tidak terdapat adanya nyeri ketuk pada saat perkusi ginjal pada daerah Costae Vertebral Angel, terdapat distensi kandung kemih dan klien mengeluh nyeri saat kandung kemih ditekan. Klien mengatakan terpasang dower kateter sejak masuk RS (tgl 5 Agustus 2005), klien mengatakan sekarang BAKnya melalui selang dan klien mengatakan merasa tidak nyaman dengan dipasangnya selang kateter. Jumlah urine klien saat dikaji sekitar + 1000 cc / 8 jam (tgl 8 Agustus 2005 pukul 06.00 sampai 8 Agustus 2005 pukul 14.00). Daerah tempat pemasangan dower kateter dan selang kateter tampak kotor. 

d) Sistem Endokrin
Tidak terdapat eksofthalmus, tidak tampak adanya hiper / hipopigmentasi kulit, tidak tampak adanya keringat yang berlebihan (diaforesis), tidak teraba adanya massa, nyeri tekan, dan pembesaran saat palpasi kelenjar tiroid dan paratiroid. Klien mengatakan tidak pernah mempunyai riwayat penyakit kencing manis.

e) Sistem Pencernaan
Warna bibir kecoklatan, mukosa bibir kering, gigi tampak kotor, jumlah gigi tidak  lengkap (20 buah), tidak ada keluhan nyeri mengunyah dan menelan, tidak ada pembesaran tonsil, tidak terdapat halitosis, sklera tidak ikterik, lidah berwarna merah muda dan tampak bersih. Abdomen datar dengan kontur lembut, tidak terdapat ascites, bising usus 8 x/menit, tidak teraba adanya pembesaran hati dan limpa, tidak terdapat adanya nyeri tekan dan lepas pada daerah abdomen, pada anus tidak terdapat haemorroid.

f) Sistem Integumen
Rambut dan kulit kepala klien tampak bersih, rambut klien tidak mudah dicabut, kulit tubuh klien tampak kotor dan kering, tidak terlihat lesi pada permukaan kulit klien, turgor kulit kembali dalam waktu < 2 detik, kulit teraba hangat, suhu 36,7 0C. 

g) Sistem Persyarafan
(b) Tingkat kesadaran
(i) Kualitas : compos mentis.
(ii) Kuantitas : nilai GCS 15 (E4, V5, M6).
(c) Pengkajian bicara : proses bicara klien lancar.

h) Sistem Reproduksi
Bentuk penis normal, skrotum tampak membesar, bentuk testis kanan tampak lebih besar, tampak adanya saluran sperma (vasdeferens) berwarna kemerahan. Klien dan istrinya mengatakan semenjak klien sakit sudah jarang melakukan hubungan seksual karena melihat kondisi klien yang kurang baik. Namun klien dan istrinya menerima keadaan tersebut sepenuhnya dan tidak akan menjadikan beban bagi dirinya.

i) Sistem Muskuloskeletal
a) Ekstremitas atas
Bentuk dan ukuran kedua ekstremitas atas simetris, pergerakan (ROM) kedua ekstremitas atas bebas ke segala arah, tidak terdapat adanya nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak terdapat adanya deformitas tulang ataupun sendi, tidak terdapat kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot, tonisitas otot baik, tidak terdapat oedem pada kedua ekstremitas, klien terpasang infus NaCl 0,9 % 20 gtt/mnt pada lengan kiri, kekuatan otot ektremitas atas 5/5, refleks biceps ++/++, triceps ++/++, brakhioradialis ++/++.

b) Ekstremitas bawah
Bentuk dan ukuran kedua ekstrimitas bawah simetris, pergerakan (ROM) kedua ekstrimitas bawah terbatas, tidak terdapat adanya nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak terdapat adanya deformitas tulang ataupun sendi, tidak terdapat kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot, tonisitas otot baik, tidak terdapat oedem pada kedua ekstremitas, kekuatan otot kedua ekstremitas bawah 5/5, refleks patela ++/++, achiles ++/++.

5) Data Psikologis
a) Status emosi
b) Konsep diri
c) Pola koping 
d) Gaya komunikasi
e) Kecemasan 

6) Data Sosial
Hubungan klien dengan keluarganya baik, terbukti klien selalu ditunggui oleh istri dan anaknya secara bergantian. Klien sangat kooperatif dalam proses perawatan dan pengobatan penyakitnya. 

Diagnosa Keperawatan Askep Benigna Prostat Hiperplasia
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya pendesakan sel-sel syaraf oleh urine pada daerah vesika urinaria akibat BPH.
  2. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya port de entry mikroorganisme akibat dari pemasangan kateter dan infus.
  3. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL : personal hygiene berhubungan dengan adanya keterbatasan aktivitas.
  4. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan teraktivasinya RAS diformatio retikularis.
  5. Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan kateter.
  6. Gangguan rasa aman : cemas sedang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit klien.
Perencanaan
Rencana tindakan Keperawatan Askep Benigna Prostat Hiperplasia Download disini. Karena dalam bentuk tabel apabila saya posting tampilannya tidak bagus. Klik Disini untuk Mendownload Rencana Tindakan kepewatan Askep Benigna Prostat Hiperplasia.
Anda sedang membaca artikel tentang Askep Benigna Prostat Hiperplasia dan anda bisa menemukan artikel Askep Benigna Prostat Hiperplasia ini dengan url http://katumbu.blogspot.com/2013/03/askep-benigna-prostat-hiperplasia.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Askep Benigna Prostat Hiperplasia ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Askep Benigna Prostat Hiperplasia sumbernya.

0 komentar:

Poskan Komentar