Home » » Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu

Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu


Kali ini saya akan sharing tentang Appendisitis atau infeksi pada usus buntu. Mulai dari pengertian dari beberapa ahli sampai pengobatan yang harus dilakukan.

1. Pengertian
Appendisitis adalah inflamasi appendiks penyebabnya biasanya tidak diketahui, tetapi sering mengikuti sumbatan lumen. Pada appendisitis akut, appendiks menjadi merah dan membengkak, dapat berlanjut menjadi gangrenosa, atau dapat berulserasi dan menyebabkan peritonitis atau abses appendiks (Sloane, 2004).
Appendisitis merupakan penyebab yang paling umum dari inflamasi akut kuadran kanan bawah rongga abdomen dan penyebab yang paling umum dari pembedahan abdomen darurat (Brunner & Suddarth, 2002).
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2005).
http://katumbu.blogspot.com/2013/03/mengenal-appendisitis-atau-usus-buntu.html

2. Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid (Irga, 2007).

3. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau  neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakinbanyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,  diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada  saat  inilah terjadi apendisitis akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium (Mansjoer, 2005).
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat  sehingga  menimbulkan  nyeri  didaerah  kanan  bawah.  Keadaan  ini disebut apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi (Mansjoer, 2005).
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks  lebih  panjang, maka dinding apendiks lebih tipis.  Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2005).

4. Tanda dan Gejala
Menurut Brunner & Suddart (2002), tanda dan gejala appendisitis yaitu :
  • Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan.
  • Mual, muntah.
  • Anoreksia, malaisse.
  • Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney.
  • Spasme otot.
  • Konstipasi, diare.

5. Komplikasi
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang  menjadi  peritonitis  atau  abses.  Insidens  perforasi  adalah  10 % sampai 32 %. Insidens lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 0C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer C. Suzanne, 2002).

6. Pemeriksaan Penunjang
  • Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/ mm3, netrofil meningkat sampai 75 %.
  • Urinalisis : normal, tetapi eritrosit/ leukosit mungkin ada.
  • Foto abdomen : Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir.
  • Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah (Brunner & Suddart, 2002).

7. Penatalaksanaan Medis 

  • Pembedahan diindikasikan bila diagnosa appendisitis telah ditegakkan.
  • Antibiotik  dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan.
  • Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
  • Apendiktomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi (Brunner & Suddart, 2002).
Demikianlah sharing saya tentang appendisitis mudah-mudahan bisa bermanfaat buat anda semua.!!

Anda sedang membaca artikel tentang Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu dan anda bisa menemukan artikel Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu ini dengan url http://katumbu.blogspot.com/2013/03/mengenal-appendisitis-atau-usus-buntu.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Mengenal Appendisitis Atau Usus Buntu sumbernya.

4 komentar:

  1. Sungguh penyakit yang sangat berbahaya, apabila sudah terkena penyakit ini rasa2nya sangat tidak nyaman sekali, penyebab penyakit ini pun bermacam-macam yah. saya kira hanya karena memakan biji cabe saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh,, bukan makan cabe penyebabnya..

      Hapus
  2. Ternyata begini penyebab penyakit usus buntu, kalau sudah du operasi apakah ada kemungkinan bisa kambuh lagi sob?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa sja mas kambuh lagi jika kita tidak mnjaga pencernaan kitta...

      Hapus