Gangguan Pada Saluran Pernafasan

http://katumbu.blogspot.com/2012/11/Gangguan-Pada-Saluran-Pernafasan.html
Blog Katumbu Akan Mencoba Mensharing Gangguan Pada Saluran Pernafasan Yang biasa terjadi pada manusia. Mungkin salah satu gangguan dibawah ini pernah terjadi sama diri anda. Tujuannya saya sharing ini untuk menambah wawasan penulis agar pelajaran yang diterima waktu kuliah dulu tidak hilang begitu saja, tetapi ada pendokumentasiaanya. Okelah kalau begitu kita akan mulai :

Yang pertama yaitu pada saluran pernapasan
Gangguan yang terjadi pada saluran pernapasan biasanya yaitu : 

1. Bronchitis.
Bronchitis ini dalam bahasa masyarakat pada umumnya yaitu radang pada saluran pernapasan yang bernama bronkus. Kata dosen saya dulu setiap kata yang berakhiran dengan itis berarti itu adalah infeksi.

2. Astma Bronchial
Asma Bronchial biasanya terjadi karena penyempitan saluran bronkus sehingga menyebabkan penderitanya kesulitan untuk bernapas. Penyebab penyempitan banyak sekali.

3. Bronchiectasis
Dalam dunia masyarakat pada umumnya ini lebih gampang jika dikakatan pelebaran bronkus yang tidak normal. 

Yang kedua Pada Jaringan Parenkimal

1. Pneumonia
Ini bisa dikatan radang pada paru-paru, dimana alveoli yang bertanggung jawab menangkap oksigen yang kita hirup terisi cairan sehingga bisa menimbulkan kekurangan oksigen dalam tubuh.

2. Emphysema
Kerusakan alveoli pada paru-paru sehingga mengurangi elastisitas paru dimana alveoli bisa terbuka dan tertutup untuk menangkap udara yang kita hirup. penyebabnya yang terbesar adalah merokok.

3. Carcinoma
Kanker pada saluran pernapasan. Rokok juga bisa memicu terjadinya kanker.

Yang Ke tiga yaitu Gabungan (Sal. Pernafasan + Jar. Parenkimal)

Infeksi pada paru-paru dan bronkus yang terjadi secara tiba-tiba.

2. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (CPOD) atau Penyakit Penyakit Paru Obtruktif Kronik (PPOK) 
Kumpulan semua penyakit tersebut diatas biasanya dikatakan PPOK.

Demikianlah yang dapat saya sering tentang Gangguan Pada Saluran Pernapasan semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Wassallam..!!!

Lapisan Otak (meningen)

Lapisan Otak (meningen)
lapisan otak biasa juga disebut meningen.

Menurut Willson (2006), selaput otak terdiri atas tiga lapisan yaitu:
1) Durameter
Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat, pada bagian tengkorak terdiri atas selaput (perios) tulang tengkorak dan durameter tropia bagian dalam. Durameter mengandung rongga yang mengalirkan darah dari vena otak, dan dinamakan sinus vena.

2) Arachnoidea
Arachnoidea yaitu selaput tipis yang membentuk sebuah balon yang berisi cairan otak meliputi seluruh susunan saraf sentral, otak, dan medulla spinalis. Arachnoidea berada dalam balon yang berisi cairan. Ruang sub arachnoid pada bagian bawah serebelum merupakan ruangan yang agak besar disebut sistermagna. Ruangan tersebut dapat dimasukkan jarum kedalam melalui foramen magnum untuk mengambil cairan otak, atau disebut fungsi sub oksipitalis.

3) Piameter
Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat. Tepi flak serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan sinus sagitalis inferior yang mengeluarkan darah dari flak serebri tentorium memisahkan serebrum dengan serebelum (Willson, 2006).

Konsep Medis Efusi Pleura

Konsep Medis Efusi Pleura

Pengertian
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura (Mansjoer, dkk, 2000).
Efusi pleura dapat berbentuk transudat, terjadi akibat penyakit lain bukan primer pada paru seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik dialysis peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikardirtis konstriktiva, keganasan atelektasis paru dan pneumothoraks. Efusi pleura eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah kapiler meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat dan terjadi pengeluaran cairan kedalam kavum pleura. Hal ini paling sering disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis (Hadi, 2001).
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price, 2003).

Etiologi
  • Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
  • Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.
  • Penyakit pada abnomen,seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom meigs. 
  • Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial, dan parasit.
  • Trauma.
Patofisiologi
Tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura terbentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial dan submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura. Proses penumpukan cairan dalam ronga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang disebabkan oleh kuman fiogenik akan terbentuk pus atau nanah, sehingga terjadi empiema / piothoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemothoraks.
Proses terjadinya pneumothoraks karena pecahnya elveoli dekat pleura perietelis sehingga udara akan masuk kedalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli pada daerah tersebut yang kurang elastis lagi seperti pada emfisema paru (Hadi, 2001)
Patofisiologi terjadinya efusi pleura bergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura di bentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler, filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura, selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.
Pada umumnya, efusi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat), sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultraviltrat plasma (transudat). Efusi yang berhubungan dengan pleuritis di sebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder terdapat peradangan atau neoplasma.
Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi payah atau gagal jantung kongestif. Saat jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan tekanan cairan yang berada didalam pembuluh darah pada area tersebut akan menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura, ditambah dengan adanya reabsorsi cairan tadi oleh kelenjar limfe di pleura mengakibatkan pengumpulan cairan yang abnormal atau berlebihan. Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik sindrom, malabsorsi atau keadaan lain dengan asites) akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pembentukan cairan pleura dan reabsorsi yang kurang. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan  pada tekanan onkotik intravaskuler yang diakibatkan cairan akan lebih mudah masuk kedalam rongga pleura. Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan bergantung pada kekakuan relative paru dan dinding dada. Pada volume paru dalam batas pernafasan normal, dinding dada cendrung recoil keluar sementara paru-paru cendrung untuk recoil ke dalam.

Tanda dan Gejala
Kebanyakan efusi pleura bersifat asimtomatik, timbul gejala sesuai dengan penyakit yang mendasarinya. Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritik. Ketika efusi sudah membesar dan menyebar, kemungkinan timbul dispnea dan batuk. Efusi pleura yang besar akan mengakibatkan napas pendek. Tanda fisik meliputi deviasi trakhea menjauhi sisi yang terkena, dullness pada perkusi dan penurunan bunyi pernafasan pada sisi yang terkena (Irman Soemantri, 2009: 98).

Komplikasi
Pada setiap efusi pleura selalu ditakutkan terjadinya infeksi sekunder (sehingga terjadi piotoraks). Juga terjadinya Schwarte sangat memungkinkan bila cairan mengandung banyak protein, seperti misalnya pada Pleuritis eksudat, hematotoraks dan piotoraks. Yang dimaksud dengan Schwarte ialah gumpalan fibrin yang akan melekatkan pleura viseralis dan pleura parietalis setempat. Schwarte ini tentunya akan mengurangi kemampuan ekspansi paru  sehingga akan menurunkan  kemampuan bernapas penderita  karena ganguan retraksi berupa penurunan  kapasitas vital. Kemudian karena fibrin ini akan mengalami retraksi, maka akan timbul deformitas dan kemunduran faal paru akan lebih parah lagi (Halim Danusantoso, 2000 : 273-274).

Pemeriksaan Penunjang
  1. Pemeriksaan radiologik (sinar tembus dada), permukaan cairan yang tedapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi dari pada bagian medial. Bila permukaan horizontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang biasa berasal dari luar atau dalam paru itu sendiri. Hal lain yang tedapat terlihat dari foto dada efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan (Irman soemantri.
  2. Pemeriksaan laboratorium yang spesifik adalah dengan memeriksaan cairan pleura agar dapat menunjang intervensi selanjutnya. Analisa cairan pleura dapat di nilai untuk mendeteksi kemungkinan penyebab dari efusi pleura. Pemeriksaan cairan pleura hasil thorakosentesis secara macros kopis biasanya dapat berupa cairan hemoragi, eksudat dan transudat.
  3. Torakosentesis. Aspirasi cairan pleura berguna sebagai sarana untuk diagnostic maupun terapiutik. Torakosentesis sebaiknya dilakukan pada posisi duduk. Lokasi aspirasi adalah bagian bawah paru di sela iga ke-9 garis aksila posterior dengan memakai jarum abboket nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan sebaiknya tidak lebih dari 1000-1500 cc pada setiap kali aspirasi,jika aspirasi dilakukan sekaligus banyak, maka akan menimbulkan syok pleural atau odema paru. Odema paru terjadi karena paru terlalu cepat mengembang.
  4. Biopsi pleura berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura melalui biopsi. Biopsi ini di lakukan untuk mengetahui adanya kuman-kuman penyakit seperti tuberkolosis.
Penatalaksanaan Medis
Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (thorakosentesis). Indikasi untuk melakukan thorakosentesis adalah :
  1. Menghilangkan sesak napas disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga pleura.
  2. Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal.
  3. Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura, tidak boleh lebih dari 1000 cc, karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan edema paru yang ditandai dengan batuk dan sesak  (Arif Muttaqin, 2008: 133).
WSD adalah alat yang dipasang pada pasien traumathoraks yang bertujuan nutuk mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dirongga pleura (Brunner and Suddarth, 2002).
Menurut (Mansjoer, dkk, 2000) Water Seal Drainage (WSD) dilakukan untuk :
  1. Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat dilakukan operasi thoraktomi.
  2. Terapi, untuk mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dalam rongga pleura.
  3. preventif, untuk  mengeluarkan darah atau  udara  yang masuk kerongga pleura    sehingga   mekanisme    pernapasan    tetap  baik   dan  penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan  infeksi atau  super infeksi.
Perawatan
Tindakan perawatan  pada pasien Efusi Pleura yaitu :
a.    Beristirahat dan berada diatas tempat tidur.
b.    Usahakan agar posisi tidurnya menyenangkan bagi penderita.
c.    Perawatan luka tindakan invasif atau pembedahan.

FISIOLOGI PERNAPASAN

Fisiologi pernapasan akan membahas tentang aktivitas pernapasan yang terdiri dari ventilasi paru, difusi, transport dan metabolisme jaringan.

1. Ventilasi
Ventilasi adalah gerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru. Gerakan dalam pernapasan adalah ekspansi dan inspirasi. Pada inspirasi otot diafragma berkontraksi dan kubah dari diafragma menurun, pada waktu yang bersamaan otot-otot interkostal interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar. Dengan gerakan seperti ini ruang didalam dada meluas, tekanan dalam alveoli dan udara memasuki paru-paru.
Pada waktu ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna telaksasi. Diafragma naik, dinding-dinding dada jatuh kedalam dan ruang di dalam dada hilang. Pada pernafasan normal yang tenang terjadi sekitar 16 kali per menit. Ekspirasi diikuti dengan terhenti sejenak. Kedalaman jumlah dari gerakan pernapasan sebagian besar di kendalikan secara biokimiawi.

2. Difusi
Difusi adalah gerakan diantara udara dan karbondioksida di dalam alveoli dan darah didalam kapiler sekitarnya.
Gas-gas melewati hampir secara seketika diantara alveoli dan darah dengan cara difusi. Dalam cara difusi ini gas mengalir dari tempat tinggi tekanan partialnya ke tempat lain yang lebih rendah tekanan parsialnya.
Oksigen dalam alveoli mempunyai tekanan parsial yang lebih tinggi dan oksigen yang berada dalam darah dan karenanya udara dapat mengalir dari alveoli masuk kedalam darah. Karbondioksida dalam darah mempunyai tekanan parsial yang lebih tinggi dari pada yang berada dalam alveoli dan karenanya karbon dioksida dapat mengalir dari darah masuk ke dalam alveoli.

3. Transportasi gas dalam darah
Transport : pengangkutan oksigen dan karbon diosida oleh darah. Oksigen ditransportasi dalam darah : dalam sel-sel darah merah; oksigen bergabung dengan hemoglobin untuk membentuk oksihemoglobin, yang berwarna merah terang. Dalam plasma: sebagian oksigen terlarut dalam plasma.
Karbon dioksida ditransportasi dalam darah; sebagai natrium bikarbonat dalam dan kalium bikarbonat dalam sel-sel darah merah dalam larutan bergabung dengan hemoglobin dan protein plasma.

4. Pertukaran gas dalam jaringan
Metabolisme jaringan meliputi pertukaran oksigen dan karbondioksida dan protein darah dan jaringan.

Oksigen
Bila darah yang teroksigenisasi mencapai jaringan, oksigen mengalir dari darah masuk kedalam cairan jaringan karena tekanan parsial oksigen dalam darah lebih besar dari pada tekanan dalam cairan jaringan. Dari dalam cairan jaringan oksigen mengalir ke dalam sel-sel sesuai kebutuhanya masing-masing.

Karbondioksida
Karbon dioksida dihasilkan dalam sel mengalir ke dalam cairan jaringan. Tekanan parsial karbon dioksida dalam cairan jaringan lebih besar daripada tekanannya dalam darah, dan karenanya karbon dioksida mengalir dari cairan jaringan ke dalam darah.

Anatomi Pernapasan Bagian Bawah

Dipostingan sebelumnya saya telah posting anatomi pernapasan bagian atas dimana anatomi pernapasan bagian atas ini terdiri dari : Hidung, faring, laring dan trakhea. Sedangkan untuk anatomi pernapasan bagian bawah terdiri dari : Bronkus, Bronkhiolus dan Alveolus. Dikesempatan kali ini saya akan mencoba membeberkan dari pada Anatomi pernapasan bagian bawah.
1. Bonkus 
Terdapat beberapa divisi bronkus di dalam setiap lobus paru. Pertama adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri).
Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus segmental (10 pada paru kanan dan 8 pada paru kiri), yang merupakan struktur yang dicari ketika memilih posisi drainase postural yang paling efektif untuk klien tertentu. Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsegmental. Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limpatik dan saraf.
Bronkus segmental kemudian akan membentuk percabangan menjadi bronkhiolus, yang tidak mempunyai kartilago didalam dindingnya. Patensi elastik otot polos sekelilingnya dan pada tekanan alveolar. Bronkhiolus mengandung kelenjar sub mukosa, yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk laposan bagian dalam jalan nafas. Bronkus dan bronkhiolus juga dilapisi oleh sel-sel yang permukaanya dilapisi oleh rambut pendek yang disebut sillia. Silia ini menciptakan gerakan menyapu yang konstan yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing menjauhi paru menuju laring.

2. Bronkhiolus
Bronkhiolus membentuk percabangan menjadi brokiolus terminalis, yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkhiolus terminalis ini kemudian menjadi bronkhiolus respiratori, yang dianggap menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas. Sampai titik ini, jalan udara konduksi mengandung sekitar 150 ml udara dalam percabangan trakeobronkial yang tidak ikut serta dalam pertukaran gas. Ini di kenal sebagai ruang rugi fisiologik. Bronkhiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar kemudian alveoli. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi dalam alveoli.

3. Alveolus
Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam klaster antara 15-20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar, akan menutup area 70 meter persegi.
Terdapat tiga jenis sel-sel alveolar. Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfaktan, suatu fosfolid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps. Sel alveoli tipe III adalah makrofag yang merupakan sel-sel Fagositis yang besar yang memakan benda asing (lendir, bakteri dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan yang penting).

CEGAH STRES DENGAN OKSIGEN, AIR DAN SINAR MATAHARI

Oksigen, air dan sinar matahari adalah sumber kehidupan yang paling dasar dan merupakan elemen penting di bumi ini. Tanpa mereka kita tidak memiliki eksistensi di sini, tapi gaya hidup kita saat ini begitu sibuk, kita tampaknya mengambil semuanya begitu saja dan tidak banyak berpikir tentang kenyataan bahwa kita perlu elemen-elemen ini setiap hari untuk bertahan hidup dengan benar.

Tubuh kita adalah air 70% dan kita mendapatkan air dari apa yang kita makan dan minum. Tentu Anda pernah mendengar bahwa Anda harus minum delapan gelas air per hari. Hal ini masih berlaku meskipun beberapa orang mungkin perlu lebih dari itu. Air inilah yang menghidrasi anda. Minuman seperti kopi, soda dan alkohol akan membuat anda dehidrasi. Bukan untuk mengatakan bahwa Anda tidak harus minum mereka, tetapi jika Anda melakukannya, usahakan anda tambahkan dengan minum air.

Bagaimana Anda tahu jika Anda dehidrasi? Berikut adalah beberapa tips:
1) Jika Anda menusuk jari Anda di atas kulit Anda dan tidak kembali dengan segera tetapi terasa agak lembek dan kembali lebih lambat, maka Anda mengalami dehidrasi.
2) Jika urin Anda berwarna kuning gelap dan memiliki bau, maka Anda mengalami dehidrasi. Urine harus cukup jelas dan bebas bau. Catatan: ada makanan seperti asparagus atau b-vitamin yang akan memberikan urin warna gelap.
3) Jika Anda lelah, kulit Anda memerah atau bibir atau mulut kering maka anda bisa mengalami dehidrasi.

Sinar matahari adalah unsur lain yang kita butuhkan untuk bertahan hidup. Kita mendapatkan banyak peringatan bahwa kita perlu melindungi diri dari matahari dan menggunakan tabir surya dan tinggal di dalam rumah sebanyak mungkin. Ada beberapa manfaat untuk itu, tapi kita mendapatkan vitamin D langsung dari sinar matahari dan Anda hanya perlu sekitar 15 sampai 20 menit untuk mendapatkan itu. Bersantai di bawah sinar matahari, cara yang bagus untuk Menghilangkan stres.

Oksigen merupakan elemen yang cukup penting untuk tubuh kita, tapi sayangnya, kita tidak menyadari apakah tubuh kita kecukupan oksigen dari apa yang kita hirup. Kita membutuhkan oksigen untuk semua sel dalam tubuh kita untuk menjadi sehat. Cara terbaik untuk melakukannya adalah kita jalan-jalan di tempat yang sejuk dan mengambil napas dalam-dalam dan melakukanya beberapa kali. Tidak masalah jika Anda melakukan angkat beban, yoga, berlari atau berjalan. Usahakan diri kita bergerak dan bernapas. Kita juga dapat melakukan latihan pernapasan sambil duduk atau berbaring dan perlahan tarik napas dalam melalui hidung dan kemudian lepaskan perlahan-lahan dari mulut. Lakukan ini beberapa kali. Istirahat selama beberapa menit dan melakukannya lagi beberapa kali lagi.

ANATOMI TRAKHEA

Trakhea merupakan bagian dari sistem anatomi pernapasan bagian atas. Dipostingan sebelumya kita sudah membahas tentang anatomi sistem pernapasan bagian atas. Bagian-bagian dari sistem anatomi bagian atas yaitu : Hidung, Faring, Laring dan Trakhea itu sendiri. Bagi yang belum membacanya silahkan Klik Disini.

4. Trakhea
Trakhea merupakan tuba yang lentur atau fleksibel dengan panjang sekitar 10 cm dan lebar 2,5 cm. Trakhea menjalar dari kartilago krikoid ke bawah depan leher dan ke belakang manubrium sternum, untuk berakhir pada sudut dekat sternum. Dimana trakhea tersebut berakhir dengan membagi ke dalam bronkhus kanan dan kiri. Dileher trakhea disilangi pada bagian depanya oleh istmus kelenjar tiroid dan beberapa vena.

Trakhea terbentuk dari 16-20 helai kartilago yang berbentuk C dihubungkan satu sama lainya dengan jaringan fibrosa. Dengan konstruksi yang demikian membuatnya tetap terbuka bagaimanapun posisi dari kepala leher. Permukaan posterior trakhea agak pipih (karena cincin tulang rawan disitu tidak sempurna). Tempat dimana trakhea bercabang menjadi bronkhus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf yang dapat menyebapkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang.

Demikianlah Semua penjelasan dari anatomi pernapasan bagian atas. Untuk anatomi pernapasan bagian bawah akan segera di terbitkan. Terima kasih Anda telah membaca sistem anatomi pernapasan bagian atas, dimana bagian-bagiannya adalah : Hidung, Faring, Laring dan Trakhea itu sendiri.

Untuk Anatomi Pernapasan Bagian Bawah Silahkan Klik Disini

ANTOMI LARING

Laring merupakan bagian dari sistem pernapasan bagian atas. Dimana sistem pernapasan bagian atas itu terdiri dari : Hidung, Faring, Laring itu sendiri dan Trakhea. Dipostingan saya yang sebelumya telah membahas sistem pernapasan bagian atas yaitu : hidung dan faring. Untuk membacanya silahkan Klik Disini untuk anatomi Hidung dan faring silahkan Klik Disini. Sekarang kita akan membahas tentang anatomi dari Laring.

3. Laring
Laring merupakan struktur yang lengkap dari kartilago; kartilago tiroid, epiglottis, kartilago krikoid dan dua buah kartilago aritenoid. Kartilago tiroid terbesar pada trakhea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun. Epiglotis, daun katup kartilago yang menutupi ostium kearah laring selama menelan. Kartilago krikoid satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak dibawah kartilago tiroid). Kartilago aritenoid (2 buah) Kartilago aritenoid; diguanakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid.

Membran Mukosa; menghubungkan kartilago satu denga lainnya dan dengan os hioideus. Pita suara; ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara; pita suara melekat pada lumen laring. Laring terletak pada garis tengah bagian depan leher, terbenam dalam kulit, kelenjar tiroid dan beberapa otot kecil, serta pada bagian depan laring ofaringeus dan bagian atas esofagus.

Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.

4. Trakhea
Klik Disini untuk membaca.

ANATOMI PERNAPASAN

Anatomi Fisiologi sistem Pernapasan dibagi dua yaitu anatomi fisiologi sistem pernapasan bagian atas dan anatomi fisiologi sistem pernapasan bagian bawah. Anatomi Pernapasan bagian atas terdiri dari : Hidung, faring, laring dan trakhea. Dan Anatomi pernapasan bagian bawah terdiri dari : Bronkus, Bronkhiolus dan alveolus.
Tapi disini saya akan mencoba membahas terlebih dahulu tentan anatomi fisiologi pernapasan bagian atas.
1. Hidung
Hidung terdiri dari hidung eksterna dan rongga hidung di belakang hidung eksterna. Hidung eksterna terdiri dari tulang kartilago sebelah bawah dan tulang hidung di sebelah atas ditutupi bagian luarnya dengan kulit dan pada bagian dalamnya dengan membran mukosa.
Rongga hidung memanjang memanjang dari nostril pada bagian depan ke apertura posterior hidng, yang keluar ke nasofaring bagian belakang. Rongga hidung tersebut di tutupi oleh membran mukosa.
Septum nasalis memisahkan kedua rongga hidung. Septum nasalis merupakan struktur tipis yang terdiri dari tulang kartigo, biasanya membengkok ke satu sisi atau salah satu sisi yang lain, dan keduanya dilapisi oleh membran mukosa. Dinding Lateral dari rongga hidung sebagian dibentuk oleh maksila, palatum dan os sphenoid.
Konka superior, Inferior dan media (turbinasi hidung) merupakan tiga buah tulang yang melengkung lembut melekat pada dinding lateral dan menonjol ke dalam rongga hidung. Ketiga tulang tersebut tertutup oleh membran mukosa.
Rongga hidung memanjang dari nostril pada bagian depang ke apertura posterior Hidung, yang keluar ke nasofaring bagian belakang. Rongga hidung tersebut ditutupi oleh membran mukosa.
Septum nasalis memisahkan kedua rongga hidung. Septum nasalis merupakan sturktur tipis yang terdiri dari tulang dan kartilago, biasanya membengkok ke satu sisi atau salah satu sisi yang lain, dan keduanya di lapisi oleh membra mikosa. Dinding lateral dari rongga hidung sebagian dibentuk oleh maksila, palatum dan os sphenoid.

Konkha superior, inferior dan media (Turbinasi hidung) merupakan tiga buah tulang yang melangkung lembut melekat pada dinding lateral dan menonjol ke dalam rongga hidung. Ketiga tulang tersebut tertutup oleh membran mukosa.

Dasar dari hidung terbentuk oleh bagian dari maksila dan tulang palatine. Atap dari rongga hidung merupakan celah yang sempit yang terbentuk oleh tulang hidung frontalis dan sphenoid. Membran mukosa olfakorius, pada bagian atap rongga hidung dan bagian tepi dari rongga hidung, mengandung sel-sel saraf khusus yang dapat mencium bau-bauan seperti dari serat sel-sel saraf tersebut melalui lempeng kribrifotmus dari os frontal dan kedalam bulb olfakorius dari saraf kranial (olfaktorius).
Sinus paranasal terdiri dari : sphenoid, ethmoid, frontalsi dan maksilaris.

Sinus paranasal merupakan ruang pada tulang kranial yang berhubungan melalui ostium ke dalam rongga hidung. Sinus tersebut ditutupi oleh membran mukosa yang berlanjut dengan rongga hidung. Ostium ke dalam rongga hidung. Lubang hidung, sinus sphenoid, diatas konkha superior.

Sinus ethmoid, oleh beberapa ostium diantara konkha media dan superior dan diantara kokha media dan inferior. Pada sebelah belakang rongga hidung keluar  ke nasofaring melalui aperture nasalis posterior.

Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari Paru-paru. Jalan nafas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran-kotoran dan melembapkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Hidung bertanggung jawab terhadap olfaktorius (penciuman) karena reseptor olfaksi terletak kedalam mukosa hidung dan hidung juga membantu dalam persengauan.

2. Faring
Faring Klik Disini Untuk Membaca

ANATOMI FARING

Faring merupakan bagian dari anatomi pernapasan bagian atas. Dimana sebelumnya saya telah posting Anatomi pernapasan bagian atas Yaitu Hidung. Anatomi pernapasan bagian atas terdiri dari : Hidung, Faring, Laring dan Trakhea. Mungkin anda bingung kenapa Faring bisa Nomor 2, dimana ada nomor 2 berarti harus ada yang pertama. Jika anda berpikiran demikian maka anda betul. Yang pertama dari sistem anatomi pernapasan bagian atas adalah Hidung. Sebelum melangkah ke faring sebaiknya anda baca dulu yang pertama, yaitu Hidung. Untuk Membacanya silahkan Klik Disini.

2. Faring
Faring atau tenggorok adalah struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region, yaitu : nasal, oral dan Laring.

Nasofaring terletak disebelah belakang rongga hidung, dibawah dasar dari tengkorak dan di seblah depan vetebra servikalis ke 1 dan ke 2. Nasofaring bagian depan keluar ke rongga hidung dan bagian bawah keluar orofaring. Audirorius (tuba eutakhia) keluar ke dinding lateral nasofaring pada masing-masing sisinya. Tonsil orofaring merupakan bantalan jaringan limfe pada dinding nasofaring posteriusuperior. Orofaing merupakan sesuatu yang umum pada sistem pernapasan dan pencernaan karena makanan masuk kedalamnya dari mulut dan udara masuk juga ke dalamnya dari nasofaring dan paru-paru.

Orofaring pada bagian bawahnya berlanjut dengan laring ofaring, yang merupakan bagian dari faring yang terletak tepat dibelakang laring dan ujung bawah esofagus.

Udara diinspirasi adalah hangat. Lembap dan disaring karena udara tersebut melalui rongga hidung. Fungsi dari faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif.

3. Laring
Klik Disini untuk Melanjutkan.