Home » , » Konsep Medis Efusi Pleura

Konsep Medis Efusi Pleura

Konsep Medis Efusi Pleura

Pengertian
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura (Mansjoer, dkk, 2000).
Efusi pleura dapat berbentuk transudat, terjadi akibat penyakit lain bukan primer pada paru seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik dialysis peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikardirtis konstriktiva, keganasan atelektasis paru dan pneumothoraks. Efusi pleura eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah kapiler meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat dan terjadi pengeluaran cairan kedalam kavum pleura. Hal ini paling sering disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis (Hadi, 2001).
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price, 2003).

Etiologi
  • Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
  • Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.
  • Penyakit pada abnomen,seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom meigs. 
  • Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial, dan parasit.
  • Trauma.
Patofisiologi
Tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura terbentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial dan submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura. Proses penumpukan cairan dalam ronga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang disebabkan oleh kuman fiogenik akan terbentuk pus atau nanah, sehingga terjadi empiema / piothoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemothoraks.
Proses terjadinya pneumothoraks karena pecahnya elveoli dekat pleura perietelis sehingga udara akan masuk kedalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli pada daerah tersebut yang kurang elastis lagi seperti pada emfisema paru (Hadi, 2001)
Patofisiologi terjadinya efusi pleura bergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura di bentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler, filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura, selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.
Pada umumnya, efusi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat), sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultraviltrat plasma (transudat). Efusi yang berhubungan dengan pleuritis di sebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder terdapat peradangan atau neoplasma.
Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi payah atau gagal jantung kongestif. Saat jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan tekanan cairan yang berada didalam pembuluh darah pada area tersebut akan menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura, ditambah dengan adanya reabsorsi cairan tadi oleh kelenjar limfe di pleura mengakibatkan pengumpulan cairan yang abnormal atau berlebihan. Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik sindrom, malabsorsi atau keadaan lain dengan asites) akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pembentukan cairan pleura dan reabsorsi yang kurang. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan  pada tekanan onkotik intravaskuler yang diakibatkan cairan akan lebih mudah masuk kedalam rongga pleura. Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan bergantung pada kekakuan relative paru dan dinding dada. Pada volume paru dalam batas pernafasan normal, dinding dada cendrung recoil keluar sementara paru-paru cendrung untuk recoil ke dalam.

Tanda dan Gejala
Kebanyakan efusi pleura bersifat asimtomatik, timbul gejala sesuai dengan penyakit yang mendasarinya. Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritik. Ketika efusi sudah membesar dan menyebar, kemungkinan timbul dispnea dan batuk. Efusi pleura yang besar akan mengakibatkan napas pendek. Tanda fisik meliputi deviasi trakhea menjauhi sisi yang terkena, dullness pada perkusi dan penurunan bunyi pernafasan pada sisi yang terkena (Irman Soemantri, 2009: 98).

Komplikasi
Pada setiap efusi pleura selalu ditakutkan terjadinya infeksi sekunder (sehingga terjadi piotoraks). Juga terjadinya Schwarte sangat memungkinkan bila cairan mengandung banyak protein, seperti misalnya pada Pleuritis eksudat, hematotoraks dan piotoraks. Yang dimaksud dengan Schwarte ialah gumpalan fibrin yang akan melekatkan pleura viseralis dan pleura parietalis setempat. Schwarte ini tentunya akan mengurangi kemampuan ekspansi paru  sehingga akan menurunkan  kemampuan bernapas penderita  karena ganguan retraksi berupa penurunan  kapasitas vital. Kemudian karena fibrin ini akan mengalami retraksi, maka akan timbul deformitas dan kemunduran faal paru akan lebih parah lagi (Halim Danusantoso, 2000 : 273-274).

Pemeriksaan Penunjang
  1. Pemeriksaan radiologik (sinar tembus dada), permukaan cairan yang tedapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi dari pada bagian medial. Bila permukaan horizontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang biasa berasal dari luar atau dalam paru itu sendiri. Hal lain yang tedapat terlihat dari foto dada efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan (Irman soemantri.
  2. Pemeriksaan laboratorium yang spesifik adalah dengan memeriksaan cairan pleura agar dapat menunjang intervensi selanjutnya. Analisa cairan pleura dapat di nilai untuk mendeteksi kemungkinan penyebab dari efusi pleura. Pemeriksaan cairan pleura hasil thorakosentesis secara macros kopis biasanya dapat berupa cairan hemoragi, eksudat dan transudat.
  3. Torakosentesis. Aspirasi cairan pleura berguna sebagai sarana untuk diagnostic maupun terapiutik. Torakosentesis sebaiknya dilakukan pada posisi duduk. Lokasi aspirasi adalah bagian bawah paru di sela iga ke-9 garis aksila posterior dengan memakai jarum abboket nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan sebaiknya tidak lebih dari 1000-1500 cc pada setiap kali aspirasi,jika aspirasi dilakukan sekaligus banyak, maka akan menimbulkan syok pleural atau odema paru. Odema paru terjadi karena paru terlalu cepat mengembang.
  4. Biopsi pleura berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura melalui biopsi. Biopsi ini di lakukan untuk mengetahui adanya kuman-kuman penyakit seperti tuberkolosis.
Penatalaksanaan Medis
Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (thorakosentesis). Indikasi untuk melakukan thorakosentesis adalah :
  1. Menghilangkan sesak napas disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga pleura.
  2. Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal.
  3. Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura, tidak boleh lebih dari 1000 cc, karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan edema paru yang ditandai dengan batuk dan sesak  (Arif Muttaqin, 2008: 133).
WSD adalah alat yang dipasang pada pasien traumathoraks yang bertujuan nutuk mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dirongga pleura (Brunner and Suddarth, 2002).
Menurut (Mansjoer, dkk, 2000) Water Seal Drainage (WSD) dilakukan untuk :
  1. Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil sehingga dapat dilakukan operasi thoraktomi.
  2. Terapi, untuk mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dalam rongga pleura.
  3. preventif, untuk  mengeluarkan darah atau  udara  yang masuk kerongga pleura    sehingga   mekanisme    pernapasan    tetap  baik   dan  penyulit pemasangan WSD adalah perdarahan dan  infeksi atau  super infeksi.
Perawatan
Tindakan perawatan  pada pasien Efusi Pleura yaitu :
a.    Beristirahat dan berada diatas tempat tidur.
b.    Usahakan agar posisi tidurnya menyenangkan bagi penderita.
c.    Perawatan luka tindakan invasif atau pembedahan.
Anda sedang membaca artikel tentang Konsep Medis Efusi Pleura dan anda bisa menemukan artikel Konsep Medis Efusi Pleura ini dengan url http://katumbu.blogspot.com/2012/09/konsep-medis-efusi-pleura.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Konsep Medis Efusi Pleura ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Konsep Medis Efusi Pleura sumbernya.

0 komentar:

Poskan Komentar